Penunjukan John Herdman dan Arah Baru Timnas Indonesia

Dunia, Trending81 Views

Hobi Bola – PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih timnas Indonesia dengan kontrak berdurasi dua tahun dan opsi perpanjangan dua tahun berikutnya. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari proyek jangka menengah federasi untuk membangun fondasi tim nasional yang lebih kompetitif dan berkelanjutan. Target besar yang dicanangkan adalah membawa Indonesia menembus panggung Piala Dunia di masa depan, setelah kegagalan pada kualifikasi edisi 2026.

Penunjukan Herdman tidak lepas dari evaluasi menyeluruh PSSI terhadap kegagalan sebelumnya. Timnas Indonesia tersingkir di putaran lanjutan kualifikasi Zona Asia dan hasil tersebut berujung pada pemecatan Patrick Kluivert. Dalam situasi tersebut, PSSI mencari sosok dengan pengalaman internasional, kepemimpinan kuat, serta rekam jejak membangun tim dari nol, kriteria yang dinilai melekat pada Herdman.

Rekam Jejak Herdman di Level Internasional

Nama John Herdman dikenal luas berkat keberhasilannya bersama tim nasional Kanada, baik sektor putra maupun putri. Ia dipandang sebagai pelatih dengan pendekatan manajerial modern, menekankan mentalitas, kebersamaan, dan disiplin taktik.

Herdman lebih dulu mencuri perhatian ketika membawa timnas putri Kanada tampil konsisten di turnamen besar. Prestasi tersebut membangun reputasinya sebagai pelatih yang mampu mengelola tekanan dan ekspektasi tinggi di level global.

Bersama tim putra Kanada, Herdman mencatat sejarah dengan meloloskan negara tersebut ke Piala Dunia setelah penantian panjang selama puluhan tahun. Keberhasilan ini membuatnya dipandang sebagai arsitek kebangkitan sepak bola Kanada modern.

Tragedi Pribadi di Balik Piala Dunia Qatar 2022

Di balik pencapaian besar itu, Herdman menyimpan kisah personal yang menyakitkan. Menjelang Piala Dunia Qatar 2022, ia kehilangan kakaknya yang meninggal dunia akibat bunuh diri pada Mei 2022. Tragedi tersebut meninggalkan luka mendalam yang memengaruhi kondisi psikologis sang pelatih.

Herdman mengakui bahwa dirinya berada dalam fase duka yang sangat berat. Ia merasa seharusnya mengambil jeda dari sepak bola untuk memulihkan diri dan mendampingi keluarga, alih-alih tetap berada di lingkungan kompetisi tertinggi dunia.

Dalam wawancara dengan CBC Sports, Herdman menyampaikan bahwa setelah memastikan kelolosan Kanada ke Piala Dunia, ia justru merasa tidak lagi membutuhkan turnamen tersebut secara pribadi. Pernyataan jujur ini menunjukkan sisi manusiawi seorang pelatih yang kerap tersembunyi di balik hasil pertandingan.

Konflik Internal dan Tekanan Menjelang Turnamen

Masalah Herdman tidak berhenti pada tragedi pribadi. Menjelang Piala Dunia, timnas Kanada juga diterpa konflik internal antara pemain dan federasi terkait hak serta upah. Situasi ini menciptakan ketegangan yang mengganggu persiapan tim.

Konflik tersebut bahkan berujung pada penolakan pemain untuk tampil dalam laga uji coba melawan Panama. Kejadian ini mencoreng persiapan Kanada dan menambah beban mental bagi Herdman sebagai pemimpin tim.

Kombinasi masalah internal dan tekanan emosional membuat performa Kanada di turnamen utama jauh dari harapan. Herdman harus mengelola tim dalam kondisi yang tidak ideal, baik secara teknis maupun psikologis.

Hasil Akhir Kanada dan Pelajaran Berharga

Kanada akhirnya harus menelan kenyataan pahit di fase grup. Tergabung bersama Belgia, Kroasia, dan Maroko, mereka gagal meraih satu pun kemenangan. Meski diperkuat pemain bintang seperti Alphonso Davies, Kanada tersingkir dengan catatan kebobolan lebih banyak daripada gol yang dicetak.

Pengalaman pahit tersebut membentuk Herdman sebagai pelatih yang lebih matang. Ia membawa pelajaran tentang pentingnya keseimbangan antara ambisi profesional dan kesehatan mental. Ketika kini dipercaya PSSI untuk menangani timnas Indonesia, latar belakang tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi tekanan besar dan ekspektasi publik yang tinggi.

Simak Juga : AC Milan vs Genoa: Drama Penalti Pavlovic di Pengujung Laga