Hobi Bola – Pemecatan Ruben Amorim dari Manchester United pada awal Januari lalu langsung memunculkan banyak spekulasi. Keputusan klub datang hanya sehari setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds United, sebuah laga yang dinilai menambah tekanan internal. Namun berbeda dari kebiasaan banyak manajer lain, Amorim memilih untuk tidak memberikan pernyataan terbuka kepada publik hingga kini.
Sikap bungkam tersebut justru menimbulkan tanda tanya besar di kalangan penggemar dan pengamat sepak bola. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Ruben Amorim dikenal sebagai sosok yang lugas dan berani menyampaikan pandangan. Oleh karena itu, keputusannya untuk menahan diri memunculkan dugaan bahwa ada pertimbangan strategis di balik sikap diamnya, bukan semata-mata keengganan berbicara.
Isyarat Kritik Terakhir dan Dinamika Internal Klub
Dalam konferensi pers terakhirnya sebagai manajer United, Amorim sempat menyampaikan pernyataan yang dinilai sebagai kritik terselubung terhadap struktur manajemen klub. Kritik terhadap peran manajerial terlihat ketika ia menegaskan bahwa dirinya datang ke Old Trafford untuk menjadi manajer, bukan sekadar pelatih di pinggir lapangan. Pernyataan ini secara tidak langsung menyentil hierarki klub, termasuk direktur sepak bola Jason Wilcox.
Hubungan kerja yang tidak sejalan kemudian menjadi topik pembicaraan luas. Beberapa pengamat menilai adanya perbedaan visi antara Amorim dan jajaran petinggi klub terkait kewenangan pengambilan keputusan. Situasi tersebut diyakini mempercepat berakhirnya masa jabatan pelatih asal Portugal itu, meskipun performa tim belum sepenuhnya stabil sejak awal musim.
Simak Juga : Curtis Jones dan Potensi Perpisahan dengan Liverpool
Alasan Menunggu Waktu yang Tepat untuk Berbicara
Menurut laporan media Inggris, keputusan Amorim untuk tetap diam bukanlah tanpa alasan. Menjaga fokus tim disebut sebagai pertimbangan utama, karena ia tidak ingin pernyataannya justru mengalihkan perhatian pemain dan staf dari target jangka pendek klub. United saat ini masih berjuang mengamankan posisi kompetitif demi peluang tampil di Liga Champions musim depan.
Menunggu akhir musim juga dianggap sebagai langkah yang lebih bijak. Dengan kompetisi yang masih berjalan, Amorim diyakini ingin memberikan ruang bagi manajer sementara untuk bekerja tanpa tekanan tambahan. Sikap ini mencerminkan profesionalisme dan kepedulian terhadap stabilitas klub, meskipun dirinya sudah tidak lagi berada di dalam struktur tim.
Era Sementara di Bawah Michael Carrick
Setelah kepergian Amorim, tongkat kepemimpinan sementara sempat dipegang Darren Fletcher sebelum akhirnya diberikan kepada Michael Carrick hingga akhir musim. Awal yang menjanjikan langsung terlihat dari hasil positif yang diraih tim dalam beberapa pertandingan penting.
Kemenangan beruntun yang mengangkat moral menjadi sorotan utama. United mampu menundukkan Manchester City di Old Trafford dan mencuri kemenangan dramatis di kandang Arsenal. Hasil-hasil tersebut tidak hanya memperbaiki posisi di klasemen, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri skuad setelah periode sulit sebelumnya.
Pesan Perpisahan dari Lingkaran Terdekat Amorim
Meski Amorim sendiri belum berbicara, suara perpisahan justru datang dari asistennya, Carlos Fernandes. Ungkapan terima kasih kepada klub disampaikan melalui media sosial, mencerminkan hubungan profesional yang tetap terjaga meski berakhir lebih cepat dari rencana awal. Pesan tersebut menyoroti pengalaman bekerja dengan pemain kelas dunia serta dukungan dari staf dan penggemar.
Makna personal dari periode singkat di Old Trafford juga ditekankan dalam pesan itu. Fernandes menyebut pengalamannya di United sebagai babak istimewa yang menguji bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga karakter. Pernyataan ini seolah memperkuat kesan bahwa keheningan Amorim bukan tanda kekecewaan semata, melainkan pilihan sadar untuk menjaga martabat dan fokus semua pihak yang masih berjuang bersama klub.
