Hobi Bola – Dalam beberapa pekan terakhir, sorotan tajam mengarah kepada Rafael Leao. Pemain sayap andalan AC Milan itu dinilai tidak lagi menampilkan daya ledak yang selama ini menjadi ciri khas permainannya. Akselerasi cepat yang biasanya menjadi momok bagi lini belakang lawan tampak berkurang, membuat kontribusinya di sisi kiri serangan Milan terasa kurang maksimal.
Kesan tersebut tidak hanya muncul dari pengamatan visual semata. Dalam empat pertandingan terakhir Serie A, Leao gagal mencetak gol dan tidak sekalipun bermain penuh hingga peluit akhir. Bagi pemain yang kerap menjadi pembeda dalam laga-laga besar, catatan ini tergolong tidak biasa. Kondisi tersebut memicu spekulasi di kalangan pendukung Rossoneri mengenai penyebab sebenarnya dari penurunan performa sang winger.
Cedera Otot yang Membatasi Senjata Utama
Jawaban atas tanda tanya itu perlahan terungkap melalui laporan media Italia. Leao ternyata masih bergulat dengan masalah pada otot adduktor bagian atas, yang juga berkaitan dengan pubalgia ringan. Cedera ini bukan cedera baru, melainkan kondisi yang telah mengganggunya selama berminggu-minggu dan belum pulih sepenuhnya.

Masalah pada area tersebut sangat krusial bagi pemain dengan gaya bermain eksplosif seperti Leao. Kecepatan dan perubahan arah mendadak membutuhkan kondisi otot pangkal paha yang prima. Ketika area ini bermasalah, pemain cenderung menahan diri dan bermain lebih aman. Hal itulah yang terlihat dari pergerakan Leao, yang seolah hanya beroperasi di “gigi pertama” demi menghindari risiko cedera yang lebih parah.
Simak Juga : Awal Musim yang Penuh Tantangan bagi Koni De Winter
Pendekatan Hati-hati dari Tim Medis Milan
Staf medis Milan memilih pendekatan konservatif dalam menangani kondisi Leao. Cedera jenis ini dikenal berisiko berkembang menjadi pubalgia kronis apabila dipaksakan. Oleh karena itu, perawatan dilakukan secara bertahap dengan fokus menjaga kebugaran jangka panjang sang pemain.
Namun, situasi kompetitif membuat Milan tetap menurunkan Leao dalam beberapa pertandingan penting. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan bahwa kehadirannya, meski belum 100 persen, tetap memberikan ancaman bagi lawan. Di sisi lain, menit bermainnya diatur agar tidak berlebihan, terlihat dari keputusan pelatih yang kerap menariknya keluar sebelum laga berakhir.
Taruhan Allegri di Tengah Keterbatasan
Pelatih Massimiliano Allegri sadar betul bahwa Leao belum berada dalam kondisi ideal. Bahkan sang pemain sempat mengakui secara terbuka bahwa fisiknya belum sepenuhnya pulih. Meski demikian, Allegri tetap bertaruh pada kualitas individu Leao yang dinilai mampu mengubah jalannya pertandingan dalam satu momen.

Keputusan tersebut sempat membuahkan hasil. Dalam laga melawan Como, pergerakan Leao ikut berperan dalam terciptanya gol pembuka yang dicetak Adrien Rabiot. Momen itu menunjukkan bahwa meski tidak berada di puncak performa, Leao tetap memiliki pengaruh signifikan terhadap permainan Milan.
Jadwal Padat dan Harapan Pemulihan
Risiko terbesar dari situasi ini adalah potensi kambuhnya cedera jika Leao terus dipaksakan bermain. Hal tersebut terlihat dalam laga imbang kontra AS Roma, di mana kontribusinya kembali terbatas karena kendala fisik yang belum sepenuhnya teratasi.
Meski demikian, kalender pertandingan memberi sedikit ruang bernapas bagi Milan. Setelah pertandingan tersebut, Rossoneri memiliki waktu istirahat lebih panjang sebelum menghadapi Bologna pada awal Februari. Selain itu, absennya laga kontra Como membuka peluang bagi Leao untuk fokus pada pemulihan tanpa tekanan pertandingan beruntun. Jika masa jeda ini dimanfaatkan secara optimal, Milan berharap sang bintang dapat kembali menemukan ledakan kecepatan yang selama ini menjadi senjata utamanya.











